Bappeda Kukar Petakan Pengembangan Pertanian di Zona Utara, Fokus Perluasan Komoditas Unggulan
Lahan pertanian di Kukar
(riz/poskotakaltimnews)
POSKOTAKALTIMNEWS, KUKAR : Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) terus memperkuat arah pembangunan sektor pertanian dalam arti luas.
Salah satu langkah
strategis yang kini dilakukan ialah pemetaan pengembangan pertanian di zona
utara, yang membentang dari Kecamatan Kota Bangun Darat hingga Kecamatan
Tabang.
Langkah tersebut menjadi
bagian penting dalam mendukung penyusunan program prioritas daerah serta
peningkatan kesejahteraan masyarakat berbasis potensi wilayah.
Plt Kepala Bappeda Kukar
Sy. Vanesa Vilna melalui Kabid Ekonomi dan SDA Bappeda Kukar Bagus Eko Sampurno
mengatakan, zona utara memiliki karakteristik lahan yang beragam dan potensi
pertanian yang besar, mulai dari perkebunan, hortikultura, hingga pengembangan
peternakan dan perikanan darat.
Menurutnya, pemetaan ini diperlukan agar arah
pembangunan dapat lebih terukur, tepat sasaran, dan berbasis pada keunggulan
lokal.
Ia menjelaskan, kawasan
Kota Bangun Darat hingga Tabang selama ini dikenal sebagai wilayah dengan
peluang besar dalam pengembangan komoditas perkebunan seperti kelapa sawit,
kakao, dan kopi.
Selain itu, terdapat
potensi pengembangan tanaman pangan serta peternakan yang dapat mendukung
peningkatan produksi pangan daerah.
“Kami melihat potensi zona utara sangat besar
sehingga perlu dipetakan secara komprehensif,” jelas Bagus Eko Sampurno pada
Poskotakaltimnew, di Tenggarong, belum lama ini.
Dalam proses pemetaan
tersebut, pihaknya juga melibatkan OPD teknis, pemerintah kecamatan, serta
masyarakat setempat agar hasil kajian benar-benar menggambarkan kondisi dan
kebutuhan riil di lapangan.
Pendekatan partisipatif
ini dinilai penting untuk memastikan pembangunan sektor pertanian tidak hanya
bersifat top-down, tetapi juga sesuai aspirasi masyarakat.
Ia menambahkan, pemetaan
ini turut mengidentifikasi tantangan utama yang selama ini dihadapi masyarakat,
seperti keterbatasan akses infrastruktur pertanian, pasokan bibit unggul, serta
pendampingan teknologi budidaya.
Sementara pengembangan
wilayah tidak bisa berdiri sendiri, tetapi harus didukung oleh program lintas
sektor yang saling terintegrasi.
“Ketika rencana
pembangunan pertanian di zona utara sudah terpetakan, maka OPD terkait seperti
Dinas Pertanian, Dinas Perkebunan, hingga Dinas Peternakan akan memiliki acuan
yang jelas untuk menentukan prioritas program,” jelas Bagus.
Sehingga intervensi
pemerintah daerah dapat lebih efektif dalam mendorong pertumbuhan ekonomi desa.
Selain fokus pada
peningkatan produksi, pemetaan ini juga menyoroti pentingnya pengembangan
kelembagaan petani dan rantai pemasaran hasil pertanian.
Pertanian modern tidak
hanya berbicara soal budidaya, tapi juga memperkuat peran kelompok tani,
kemitraan dengan pelaku usaha, serta akses pasar yang stabil.
Dirinya berharap, hasil
pemetaan yang sedang dirampungkan ini dapat menjadi dasar kuat dalam penyusunan
rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD) berikutnya.
Dengan strategi berbasis
wilayah tersebut, pembangunan sektor pertanian di zona utara diharapkan tumbuh
lebih cepat dan memberikan dampak nyata bagi peningkatan kesejahteraan
masyarakat.
“Zona utara adalah salah
satu tumpuan masa depan pertanian Kukar. Karena itu, perencanaannya harus
matang dan berbasis data,” ungkapnya. (Adv/riz)